followers

Rabu, 07 Oktober 2015

Setabah apapun mencintai, hati akan tegas jika pintu hati dibanting berkali-kali

Minggu, 13 September 2015

Hanya wanita biasa

ia hanya wanita biasa, 
mencintai satu, dari semua kilau yang mendekati


ia hanya wanita biasa,
menyayangi satu, rela berlelah tanpa pamrih


ia hanya wanita biasa,
 yang telah dinyamankan oleh "sepi'
berani berkata cinta , takut mengalaminya (lagi)

ia hanya wanita biasa,
 begitu teduh menyayangi, lupa bahwa mawar putih menurutnya tercantikpun, akan layu..

ia hanya wanita biasa,
yang berada diruang tunggu..







Rabu, 02 September 2015

(Beda) : Ku izinkan kau dekat

Ku izinkan kau dekat,
tapi jika hanya tidak sengaja bertemu, bukan karena kita yang mengada-ada pertemuan.

ku izinkan kau dekat,
tapi bukan dengan cara kita selalu berkirim pesan 

ku izinkan kau dekat,
tapi jika kau masih menjaga apa yg dulu ku titipkan.

ku izinkan kau dekat,
tapi jika kau (masih) mampu membuatku tersenyum. 

ku izinkan kau dekat,
tapi jika kau (masih) mampu menghadirkan kenyamanan itu.

ku izinkan kau dekat,
tapi jika kau mampu tak mengungkit lalu yang buatku luka.

ku izinkan kau dekat,
asal kau bisa mengendalikan dirimu agar tak lebih dari "dekat"

kau dan aku, sama-sama tahu.
ada batas yang tak bisa dilewati, lebih dari sekedar tembok besar.
karena sedekat apapun kau dan aku,
Sang pemilik hati yg sebenarnya, takkan pernah mengizinkan.

kau dan aku, sama-sama tahu.
tak boleh lebih dekat" melebihi "dekat" dengan-NYA.

ku izinkan kau, hanya "dekat".






Kau masih sama

Kau masih sama,
masih menatapku nakal dengan jujur
kau masih sama,
tersenyum riang jika melihatku

kau masih sama,
menyihir bibir ini menjadi seulas senyum hingga terbahak.
kau masih sama,
menyebalkan. 

kau masih sama,
yang terkadang manja didekatku.
kau masih sama, 
mempercayaiku dalam mencurahkan kisahmu.
kau masih sama,
menyamankan yang mungkin tak pernah ku akui.

ku akui, kau senyaman itu, 
seperti lalu, sesingkat itu
sepenggal kisah kita yang tak sampai. 

kau, masih sama. 

Senin, 01 Juni 2015

Sekacau itu kah kau merindukan ku?

Kau yang ku pikir terbang begitu jauh dengan sayapmu, sedangkan aku yang hanya berjalan di dataran yang tandus, ternyata kau benar-benar terjun bebas dan terperosok.
sayapmu yang ku pikir kuat itu patah. Ya, sayapmu ternyata patah. Ku pikir kau akan terbang jauh dengan sayap mu itu. Bahkan kau menoleh ke belakang menatapku, seolah kornea mu memberitahu bahwa kau tidak baik-baik saja. Lihatlah dirimu. Kepura-puraanmu perlahan meremukkanmu. sekacau itu kah kau merindukan ku?

Kamis, 21 Mei 2015

Ku Kira

Aku rindu saat-saat pertama, saat segalanya terasa sederhana. Sederhana tapi istimewa. 
lelah berada dalam ruangan yang berdinding pengingkaran. Merasa takkan ada satu pun objek yang membawaku keluar dari ruangan itu. Ruangan yang membuatku mengingat suatu siklus harapan yang berujung pupus. 
Tapi, sejenak melihatmu.. membuatku lupa akan hal itu. Padahal kita tidak saling berkenalan, kita hanya  tahu begitu saja. aku mensyukuri pertemuan singkat ini, karena untuk pertama kalinya, aku bisa lupa apa yang seharusnya tidak kupikirkan. kenapa kamu? aku pun tidak tahu. Tapi ku tak ingin mengenalmu lebih jauh, kau pun begitu yang tak ingin mengenalku lebih jauh. 
Waktu itu aku mencari tahu, kenapa hati damai hanya melihatmu. Ku kira apakah aku jatuh hati? sulit dipercaya karena aku bukanlah yang mudah menjatuhkan hati, bagaimana bisa jika jatuh hati duluan?  Apa yang sebenarnya yang direncanakan oleh sang penjaga waktu, hingga semesta mempertemukan kita sesingkat ini. Saat itu ingin ku percepat waktu dimana kita tak bertemu lagi, agar ku meyakini adakah timbul butir-butir rindu untukmu. 
Berlalu nya waktu membuatku tahu, hanya ibarat sebuah iklan di TV. yang bukan hal utama untuk ditonton, atau ditunggu-tunggu, tapi tetap harus ada dan terkadang menarik. ya, kau hanya salah satu intermezo dalam bagian ceritaku. Ternyata aku sama sekali tidak rindu, kau tidak membawaku keluar dari ruangan yang melelahkan itu, kau hanya membuatku lupa sejenak berada didalamnya. Masih sama, ternyata aku belum bisa jatuh hati lebih dulu. 
Setidaknya.. Terima kasih sudah membuatku lupa, meski sejenak.